Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juli 2010

melihat kesunyian ini
mendengar kilauan bulan
meraba dinginnya angin
mengecap bunyi jangkrik

mungkin
malam ini akan hujan
entahlah
jangan pusingi hal ini

tetap berpikir ke depan
walaupun terkadang harus ke belakang
tetap optimis bergerak
sekalipun terkadang harus diam sejenak

sekalipun alam ini begitu indah
sekalipun dunia ini begitu menghimpit
sekalipun waktu ini terus menggerus
nikmatilah malam ini
sejenak . . .
sebisanya . . .

Pattiro Bajo, Kab. Bone, saat malam tiba di persemedian.

Sabtu, 10 Juli 2010

Yang Ada Di Pikiran

tak banyak yang terpikir saat ini
kecuali ingin kembali merasakan saat terakhirku
tapi. . .
tak usah dipikirkan
karena
tak ada lagi berpikir tentang itu

tak banyak yang terpikir saat ini
kecuali ingin kembali merasakan makanan itu
tapi. . .
tak usah dipikirkan
karena
tak ada lagi yang ingin mengingatnya

tak banyak yang terpikir saat ini
kecuali ingin kembali meraskan tidur pulas di tempat tidur
tapi. . .
tak usah dipikirkan
karena
kita sedang di medan penuh genangan darah

ya
teriakan orang tua
tangisan anak anak
desingan peluru
menjadi hidangan setiap pagi

masihkah kita termenung?

saatnya berbuat
tidak hanya dengan kecaman
tapi dengan tindakan

demi Al-Aqsho tercinta
demi Palestina merdeka

Saturday, June 19, 2010 at 10:06pm
di sekretariat RISMIT

Senin, 14 September 2009

Ramadhan

Ramadhan sang sasana
Alam pun ikut menyambutnya
Malam terasa senyap dan damai
Air mengalir menambah sedap ibadah malam
Daun menyibakkan sinar sang surya
Hari hari yang dirindukan
Anugrah terindah dari Sang Kuasa
Namun, bagaimana kita menghadapinya?

Kamis, 13 Agustus 2009

tak berjudul

Tak ada yang tahu persis
siapa yang menjunjung langit
siapa yang menapak bumi

Tak ada yang tahu persis
dimana sang mawar akan mekar
dimana daun jati kan meranggas

Tak ada yang tahu persis
kapan sang maut menjemput
kapan sangkakala kan meraung

Rabu, 12 Agustus 2009

monolog malam

selimut malam telah terhampar
sang pangeran kegelapan telah tampakkan dirinya
lautan kapuk kan jadi saksi
bunga tidur jutaan manusia

tapi sadarkah kita
akan kerikil kerikil waktu yang ada
yang masih berdesakan
untuk menggenggam sesuatu
sebagai pengasah esok pagi

atau hanya sang rembulan
yang masih tersenyum pada mereka
atau sang pangeran kegelapan
yang terus teriakkan
keagungan Tuhan

Rabu, 13 Mei 2009

POEM.....

Entah Apa Judulnya

Berjuta
Bahkan mungkin
Milyaran
Kapuk
Yang terhampar luas
Dalam sebuah ikatan
Di atas kelopak mataku

Sementara
Suara halilintar
Menggelegar di udara
Laksana
Vonis mati
Bagi
Pelaku teroris

Ratapan anak-anak
Raungan wong cilik
Dan
Alunan sendu wong licik
Hanya
Menjadi
Alunan simfoni
Pengantar Tidurku
Sedang aku
Yang terkapar
Di tempat ini
Hanya ingin
Merasakan
Nikmatnya
Tidur

Ok, puisi ini dibuat untuk menjawab perintah guru, waktu itu pelajaran bahasa Indonesia tugasnya buat puisi. Jadi deh kayak gini!


Untuk Seseorang Disana...

Waktu akan terus bergulir
Ikuti irama yang mengalun indah
dari alam semesta
yang tak pernah mengeluh
akan kehadiran kita

tahukah anda mengenai arti
riang dalam hidup ini
ia tak lain dan takbukan
adalah cerminan dari kita

karena kita terhubung oleh
ikatan yang tidak pernah putus
ruang dan waktu
akan menjadi pewarna hidup
namun ia jugakan jadi dimensi
awal dari sebuah persaudaraan

Yup, benar ni puisi dibuat khusus untuk seseorang disana, yang kebetulan lagi ultah. Berhubung Al-Khawarizmi tak punya ung untuk buat hadiah, jadi deh ni puisi sebagai hadiah. diterima ya!